Tengku Sri Maharaja : Milad Ke-3 Abad Kesultanan Serdang, Jalankan Adat Tapi Tak Beradab

 

*Tengku Sri Maharaja : Milad Ke-3 Abad Kesultanan Serdang, Jalankan Adat Tapi Tak Beradab*

www.mediapadjajaran.com - Medan – Milad 3 Abad Kesultanan Serdang yang di Prakarsai Yayasan Kesultanan Serdang akhirnya menuai kritikan dikalangan orang-orang besar Kesultanan Serdang.

Kontroversialpun terjadi terkait keberadaan dan status Yayasan dan pergerakannya selama ini  yang memakai nama Kesultanan Serdang serta susunan pengurusnya yang diketuai oleh Tengku Mira Sinar, MA yang ternyata saat pendiriannya tanpa diketahui dan dapat restu dari para pembesar Kesultanan Serdang.

Hal ini diungkapkan langsung oleh Tengku Sri Maharaja Hermansyah, AMP kepada media bahwa apa yang dilakukan Tengku Mira Sinar telah membuat tatanan adat Kesultanan Serdang sudah semakin kacau dan tidak menghargai orang-orang besar bergelar, Minggu (18/06).

“Kesultanan Serdang merupakan bentuk pemerintahan dizaman Kerajaan sebelum bergabung ke NKRI, dan saat ini Kesultanan Serdang berubah menjadi organisasi Lembaga Adat layaknya para Kerajaan lainnya di NKRI ini dan tidak pernah menyatakan diri berubah menjadi sebuah Yayasan,” tegas Tengku Sri Maharaja.  

 

“Jadi apapaun langkah yang dilakukan Yayasan Kesultanan Serdang, bukanlah hasil keputusan dari Kesultanan Serdang apalagi mewakili Kesultanan Serdang. Dan untuk Tengku Mira Sinar dengan Yayasannya, apapun langkah yang telah dia lakukan, saya tegaskan bahwa bukanlah bahagian dari sejarah Kesultanan Serdang. Yang pasti itu hanya bahagian sejarah dari Yayasan yang di ketuainya’” tegas Tengku Sri Mahara lagi.

“Kedepannya saya akan menuntut Tengku Mira Sinar secara hukum yang berlaku di Negara Republik Indonesia ini agar segera merubah nama yayasannya tidak lagi memakai kata Kesultanan Serdang,” niat Raja Ramunia Kesultanan Serdang ini.

“Ini harus diluruskan segera, jika tidak bisa jadi Kesultanan Serdang semakin jauh dari tradisi adat dan semakin tak beradab, sejarah harus diluruskan”kesal Tengku Sri Maharaja.

“Harus dibedakan, Kesultanan dan Sultan itu berbeda. Kesultanan ibarat sebuah Negara yang harus terdiri dari Pemerintahan, Masyarakat dan juga wilayahnya. Sedangkan Sultan adalah Kepala Pemerintahan. Jadi hati-hati kalau memakai kata Kesultanan sebab melibatkan banyak hal tapi jika atas nama Sultan ….. berarti hanya ahli waris dan keturunan dari Raja/Sultan tersebut,” ungkapnya.

“Saya tegaskan secara adat di Kesultanan Serdang, Kesultanan Serdang sampai saat ini belum pernah mengangkat Sultan Baru. Sultan Serdang terakhir adalah Sultan Sulaiman Shariful Alamsah wafat tahun 1946, sedangkan Tengku  Abu Nawar Sinar merupakan Pemangku Adat, Tengku Luckman Sinar merupakan Kepala Adat dan itu tertulis dibatu nisannya begitu juga dengan Tengku Amat Talaa bukanlah Sultan Serdang,”

“Jabatan Kepala Adat adalah jabatan Menteri Besar dan bukan jabatan Sultan dan tidak berhak memakai gelar yang disandang oleh Sultan yaitu Gelar Alamsah. Silahkan Tengku Amat Talaa hadir diacara Milad Kesultanan Serdang yang diadakan Tengku MiraSinar, tapi jangan coba-coba mengaku sebagai Sultan, sebab kedepannya saya akan meluruskan ini semua dan menggugat pihak-pihak yang mencoba mengkaburkan adat Kesultanan Serdang,” tegas Tengku Sri Maharaja ini.

“Kesultanan Serdang memiliki 4 orang besar yaitu Sri Maharaja (Ketua), Raja Muda/Bendahara (Sekretaris), Maha Mentri (Kepala Adat) dan Paduka Raja (Kepala Agama) yang berfungsi untuk memilih dan mengangkat Sultan (Kepala Pemerintahan) yang dibacakan sumpahnya oleh Sri Maharaja,”.

“Keempat orang besar ini sewaktu awal dibentuk belum memiliki wilayah terotorial, tetapi dalam perjalanan waktu dengan bertambah luasnya wilayah kerajaan serdang maka diberikan wilayah dan memimpin wilayah tersebut menjadi seorang raja,”.

“Jadi, gelar itu disandang disaat menjabat sebagai menteri besar dan bukan gelar sebagai Raja dan yang mengangkat para Menteri Besar adalah Sri Maharaja, ingat itu dan saya akan meluruskan  semua ini agar tidak terjadi lagi terjadi pembohongan publik,” tutup Tengku Sri Maharaja. (Litbang MPNI)


0 Komentar:

MOTO

MEDIA PADJAJARAN NUSANTARA INDONESIA
SATUKAN BANGSA BERSAMA MEDIA, BANGSA YANG SATU BANGSA INDONESIA
Alamat : Jalan Pembangunan III No.16 Jakarta Pusat TLP. 0838 7549 4989 - 0815 1706 1151